memakai pakaian ketat yang menutup aurat dan warna kulit,
maka hal ini sesuatu yang makruh. Sebagaimana dinyatakan ar-Rauyani kitab al-Bahr[1]. Demikian pula dinyatakan oleh Syekh Syamsuddin ar-Ramli dalam kitab Nihayah al-Muhtaj, ia berkata:
"Perempuan tidak boleh menampakan [bagain badannya], kecuali wajah dan kedua
telapak tangannya. Penutup aurat disyaratkan mencegah warna kulit, sekalipun
sempit [ketat], hanya saja hal itu makruh bagi perempuan, dan perbuatan yang
menyalahi keutamaan bagi kaum laki-laki"[2].
Pernyataan serupa juga
ditulis oleh Syekh Zakariyya al-Anshari dalam kitab Syarah Raudl at-Thalib[3]. Juga oleh Syekh al-Bakri ad-Dimyathi dalam I'anah at-Thalibin[4] dan ulama besar lainnya dari ulama madzhab
as-Syafi'i.
Di antara ulama
madzhab Maliki yang menyatakan makruh memakai pakaian pakaian ketat bagi
perempuan adalah; as-Syaikh Muhammad 'Illaisy dalam Minah al-Jalil Syarh Mukhtashar
al-Khalil[5]. Al-Baji al-Maliki dalam Syarh
al-Muwatha[6] menyatakan hal serupa.
Di antara ulama
madzhab Hanbali yang menyatakan makruh masalah ini ialah Syekh al-Buhuti
al-Hanbali dalam kitabnya Kasyaf
al-Qina'[7]. Di antara yang dikutip beliau sebagai dalil dalam masalah ini adalah
sebuah hadits Rasulullah. Bahwa suatu ketika Rasulullah menghadiahkan pakaian
[semacam pakaian al-Qibthiyyah]
kepada Usamah ibn Zaid. Kemudian Usamah memakaikan pakaian tersebut kepada
isterinya. Ketika Rasulullah bertanya: "Kenapa engkau tidak memakai pakaian al-Qibthiyyah?. Usamah menjawab: "Aku
memakaikannya kepada isteriku wahai Rasulullah!. Rasulullah bersabda: "Suruhlah
ia untuk mengenakan pakain dasar [ghilalah], aku khawatir pakaian [al-Qibthiyyah] tersebut membentuk
tubuhnya". Dalam pada ini Rasulullah tidak mengharamkan pakain ketat
tersebut.
___________________________________
[1]. Al-Bahr al-Mudzahhab (116)
[2]. Nihayah al-Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj (2/6)
[3]. Asna al-Mathalib Syarh Raudl at-Thalib (1/176)
[4]. Hasyiah I'anah at-Thalibin (1/113)
[5]. Lihat Minah al-Jalil (1/226)
[6]. Al-Muntaqa Syarh al-Muwatha (1/251)
[7]. Lihat Kasyaf al-Qina' (1/278)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar